Seringkali kita mendengar seseorang mengutarakan maaf di setiap
Ada beberapa kategori orang yang dapat dibedakan dalam mengutarakan kata maaf :
1. Tidak pernah mengatakan maaf
2. jarang mengutarakan maaf
3. terbiasa mengutarakan maaf kala menyadari
4. sering mengutarakan maaf
Terlepas dari kategori diatas, biasanya orang mengutarakan kata maaf untuk menyampaikan bentuk penyesalan yang telah dilakukan atau kata maaf bisa disebut mewakili atas sekedar keprihatinan yang mendalam untuk rekan-rekan yang ada disekelilingnya. Ambil contoh slamet yang hampir saja menabrak orang yang menyeberang di jalan, karena melamun dan tak menghiraukan petunjuk jalan yang memberitahukan bahwa akan ada orang yang menyeberang, setelah turun dari kendaraannya dia menghampiri orang tersebut dan menyampaikan “maaf” atas apa yang telah dia lakukan, karena si slamet bukanlah tipikal orang yang sombong untuk terlebih dahulu mengutarakan kata “maaf” apalagi dia turun dari kendaraannya.
Dalam dunia kerja sering kita perhatikan otoritas dan fungsi dari seorang anggota team di langkahi oleh rekan teamnya, bila yang dilangkahi merasa kurang nyaman atas kondisi tersebut, bisa saja dia menegur rekan teamnya yang lain demi mengharap ada kata maaf dan tidak akan terulang kembali, syukur-syukur yang menlangkahi menyadari akan hal tersebut, maka fungsi dari team menjadi semakin solid dengan adanya hubungan timbal balik tersebut dengan kondisi bahwa yang dilangkahi membuka pintu maaf yang lebar bagi peminta maaf tadi.
berdasar atas kondisi tersebut, kata “maaf” bukanlah sekedar kata yang mudah untuk diucapkan karena selanjutnya konsekuensi untuk tidak mengulang kembali haruslah di laksanakan, bila ngga maka kata “maaf” sendiri hanyalah sebuah pemanis bibir atau isapan jempol belaka.
jadi dengan kata lain kata “maaf” lebih berarti bila diimbangi tindakan dengan sungguh – sungguh untuk memperbaiki diri dan berusaha sepenuhnya untuk ngga mengulang kembali apa yang telah dilakukan, dengan alasan apapun.
Recent Comments